Wasit Kontroversi Insiden Henry Ikut Pimpin Laga Piala Dunia 2010
Handsball Thierry Henry di laga kedua playoff kualifikasi Piala Dunia 2010 Zona Eropa saat Prancis melawan Republik Irlandia pada 18 November lalu merupakan satu insiden yang tentu belum dapat dilupakan publik sepak bola. Juga wasit Martin Hansson yang mengesahkan gol William Gallas, yang umpannya berasal dari bola yang dihentikan tangan Henry tersebut. Seolah belum cukup menyakitkan buat Irlandia, bulan lalu FIFA memutuskan bahwa Henry lolos dari sanksi.
Dan sekarang, ketika kontroversi mengenai hal itu belum mereda, FIFA membuat keputusan mengejutkan lagi. Otoritas tertinggi sepak bola dunia tersebut memasukkan nama Martin Hansson sebagai salah seorang pengadil di Afsel. Rupanya, kesalahan fatal dia di Stade de France itu tidak cukup untuk membuat namanya tereliminasi. Ofisial FIFA menjelaskan bahwa pemilihan wasit tidak hanya berdasar pada satu pertandingan saja dan Hansson secara global mempunyai prestasi sangat bagus.
Alasan FIFA itu tidak bisa diterima banyak pihak, terutama publik Irlandia. Irish Times, surat kabar terkemuka negeri tersebut, membeber sejumlah kesalahan Hansson dalam beberapa tahun terakhir. “Pendeknya, prestasi dia tidak bisa dikatakan menonjol. Buktinya, dia sering membuat kesalahan fatal,” ulas Irish Times.
Ternyata, yang menolak keberadaan Hansson di Afsel bukan hanya pihak-pihak yang dirugikan secara langsung oleh keputusan wasit 38 tahun tersebut. Bahkan sejumlah media di kampung halamannya, Swedia, juga beranggapan bahwa Hansson tidak pantas masuk barisan elite wasit PD.
Di luar kontroversi Hansson, publik cukup puas dengan nama 29 anggota korps baju hitam lainnya. Di antara mereka, ada delapan orang yang pengalamannya tak perlu diragukan karena bertugas di Piala Dunia 2006. Yang lain dinilai cukup mumpuni lantaran punya curriculum vitae mengesankan.
Alumnus edisi 2006 antara lain wasit Meksiko Benito Archundia yang memimpin pertandingan semifinal Jerman kontra Italia. Ada juga wasit papan atas Italia Roberto Rosetti yang memimpin final Euro 2008 antara Spanyol versus Jerman di Wina.
Tidak ada wasit asal Amerika Serikat yang lolos seleksi. Negeri Paman Sam bahkan tidak menyumbangkan satu asisten wasit pun. Demikian pula Australia yang di kualifikasi PD kali ini tergabung di zona Asia. Sebaliknya, dua wasit asal Selandia Baru lolos. Mereka adalah Michael Hester dan Peter O’Leary.
Terpilihnya 30 nama itu adalah akhir sebuah proses seleksi yang panjang. Mereka dipilih dari 53 kandidat yang dijaring sejak akhir 2006. Pada September 2007, mereka diberi pelatihan khusus bertajuk Elite Referee di Zurich, Swiss. Setelah terpilih, tugas mereka tidak berarti selesai.
“Kami membuat program persiapan yang komprehensif buat para wasit ini agar mereka mencapai kondisi terbaik pada Juni-Juli mendatang. Kondisi fisik dan mental yang prima sangat memengaruhi kinerja wasit,” jelas ofisial FIFA. “Mereka juga akan mengikuti seminar khusus bulan depan supaya mereka semakin matang” lanjutnya.
Filed Under: FIFA World Cup






