Juara Sejati Mesir Dominasi Perolehan Award
LUANDA – Keperkasaan Mesir sebagai jawara di Piala Afrika belum tergantikan. Pasukan The Pharaohs itu kembali menancapkan cakarnya dan sukses menjuarai Piala Afrika 2010 di Angola. Ahmed Hassan dkk memenuhi ambisi mencetak hat-trick setelah menaklukkan Ghana 1-0 dalam partai final di Stadion 11 de Novembro, Luanda, kemarin dini hari WIB (1/2).
Gol kemenangan Mesir dicetak Mohamed Nagy alias Geddo pada menit ke-85. Dengan sukses tampil sebagai juara Piala Afrika 2010 tersebut berarti ini merupakan gelar ketujuh bagi Mesir sepanjang keikutsertaannya di even dua tahunan tersebut.
Mesir memang layak dinobatkan sebagai juara sejati dalam pementasan Piala Afrika 2010. Skuad The Pharaohs tersebut mampu menyapu bersih kemenangan dalam enam laga sepanjang turnamen. Hasil itu menambah catatan tidak terkalahkan Mesir dalam 19 laga beruntun atau sejak ditahan imbang 0-0 Kamerun pada 3 Februari 2004.
Tidak hanya itu. Mesir melengkapi gelar dengan berbagai award. Di antaranya, pemain terbaik oleh Ahmed Hassan. Skipper Mesir tersebut sekaligus memenuhi ambisi sebagai pemain pertama yang juara empat kali Piala Afrika (1998, 2006, 2008, 2010). Di Piala Afrika 2010, gelandang 34 tahun itu menahbiskan diri sebagai pemain yang paling sering membela Mesir (172 caps).
Pahlawan Mesir di final, Geddo, meraih predikat top scorer dengan koleksi lima gol. Uniknya, semua gol Geddo dicetaknya saat turun sebagai pemain pengganti. Karena itu, striker 25 tahun yang baru mencatat delapan caps tersebut dijuluki supersub.
Penghargaan lain yang dibawa pulang Mesir adalah kiper terbaik (Essam El Hadary), pemain paling fair play (Ahmed Fathi), hingga menyumbangkan lima pemain dalam tim terbaik turnamen (best eleven). Tidak ketinggalan, pelatih Mesir Hassan Shehata menorehkan sejarah sebagai pelatih pertama yang meraih tiga gelar juara beruntun.
”Inilah tim terbaik Mesir dari berbagai generasi. Hat-trick dengan tiga gelar beruntun merupakan satu sukses yang bakal sulit disamai di masa mendatang. Kerja sama tim merupakan kunci sukses kami. Harapannya, kami bisa mengulangnya dua tahun lagi,” papar Shehata setelah final sebagaimana dilansir di situs resmi FIFA.
Dalam final kemarin, Mesir sebetulnya lebih banyak ditekan Ghana, khususnya di babak pertama. Tapi, di babak kedua, stamina skuad muda Ghana mulai drop dan tidak disiplin. Itulah yang dimanfaatkan Mesir untuk mencuri satu gol lewat Geddo. Sebagai catatan, kendati final yang ditonton 50 ribu penonton itu berlangsung malam, hawanya terasa panas karena suhu udara 40 derajat Celsius.
”Kami bermain bagus dan dominan sepanjang pertandingan. Sayang, pengalaman tidak berpihak kepada tim kami. Ketika kami sangat bernafsu meraih kemenangan, pada akhirnya pengalaman Mesir yang bicara setelah kami membiarkan mereka mencetak satu-satunya gol dalam pertandingan,” urai Milovan Rajevac, arsitek Ghana.
Filed Under: FIFA World Cup






